Bali sebagai destinasi pariwisata siap bersaing di era global

Daya saing sektor pariwisata Indonesia terus mengalami peningkatan bahkan tenaga kerja sektor ini telah mampu bersaing di level internasional, khususnya di Bali. Pulau Bali adalah pulau yang memiliki destinasi wisata yang terpopuler di Indonesia bahkan Dunia. Dengan keberagamanan wisata dapat menjadikan Bali sebagai daya tarik wisatawan domestik maupun mancanegara untuk berkunjung ke Bali. Selain itu keberagaman adat istiadat dan budaya Bali yang masih kental juga menjadi faktor pendukung pariwisata.

Sektor pariwisata saat ini menjadi salah satu investasi penting yang ada di Bali. Banyak hotel, villa, dan infrastruktur yang lain dibangun untuk mendukung investasi di sektor pariwisata. Tidak salah memang jika itu dilakukan karena memang pariwisata menyumbang bagian yang signifikan untuk PAD Bali. Pajak hotel, pajak restoran, dan pajak air tanah merupakan salah satu pos penting yang dipergunakan untuk meningkatkan pendapatan asli daerah. Pariwisata juga mampu mengenalkan budaya dan adat istiadat masyarakat lokal Bali. Tentu saja keindahan alam bali juga ikut dapat dinikmati oleh wisatawan. Selain itu, pariwisata tentu saja banyak menyerap tenaga kerja yang dapat mengurangi jumlah pengangguran. Baik itu pekerja di sektor formal ataupun informal. Dalam hal ini secara tidak langsung pariwisata telah menggerakkan ekonomi lokal di Bali.

Banyaknya jumlah kunjungan wisatawan ke Bali dikira bisa menjadikan pariwisata Bali siap bersaing di era Internasional.  Total kunjungan wisatawan mancanegara ke Indonesia melalui pintu masuk Bandara Ngurah Rai mencapai 40%, dengan nilai penerimaan devisa Bali untuk Indonesia dari sektor pariwisata sebesar 70 Triliun Rupiah.

Dengan total anggaran sebesar 3 triliun Rupiah dari Kementerian Pariwisata untuk mempromosikan pariwisata di Indonesia. Terjadi peningkatan kunjungan wisatawan mancanegara khususnya ke Bali dari 4.001.835  menjadi 4.071.905.

Daya tarik Bali adalah dengan kebudayaannya yang unik dan merakyat. Kehidupan kebudayaannya adalah menyatunya agama, kebudayaan, adat yang harmonis, cipta, rasa dan karsa sebagai unsur budi daya manusia menonjol mengambil bentuk keagamaan, estetika dan etika (seni budaya, solidaritas, gotong royong rasa kebersamaan). Pelaksanaan upacara-upacara keagamaan mewariskan potensi ketrampilan dalam seni budaya dan disiplin rohani tekun bekerja dan taat pada norma-norma kehidupan masyarakat.

Sebagai pusat pariwisata yang membuat kebudayaan Bali harus selalu mengalami pertemuan-pertemuan dengan berbagai kebudayaan, maka pembinaan kebudayaan lokal harus dilakukan secara terus menerus. Yang lebih penting, jangan sampai ada gejala masyarakat Bali diasingkan dari lingkungan kebudayaannya sendiri. Karena hal ini akan dapat membawa akibat buruk , seperti misalnya terjadi erosi kebudayaan yang dipaksa oleh kemiskinan penduduknya.

Tiap-tiap program pembangunan hendaknya selalu berkaitan dengan potensi dasar yang dimiliki oleh masyarakat Bali, yakni kebudayaan yang bernapaskan agama Hindu. Dan mengembangkan dinamika masyarakat daerah ini sangat efektif kalau dilakukan lewat lembaga-lembaga tradisional, sehingga mereka mampu dengan cepat menyesuaikan nilai-nilai baru yang hendak dikambangkan dalam menyongsong era globalisasi. Karena memiliki banyak daya ketertarikan tersebut Bali dirasa mampu bersaing di era global dengan banyaknya kunjungan ke Bali yang tidak kalah dengan kunjungan wisatawan ke Negara lain.

Selain itu faktor pendukung pariwisata yang harus terus mendapat pembenahan yakni Sumber Daya Manusia (SDM), yang dapat dilakukan melalui pelatihan kerja dalam rangka peningkatan kualitas dan produktivitas tenaga kerja. Jika para tenaga kerja pariwisata memberikan pelayanan yang terbaik pasti wisatawan akan senang dan ia akan berkunjung berwisata ke Bali lagi dan mengajak lebih banyak temannya untuk ikut berlibur ke pulau dewata.

Related image



Leave a comment

Design a site like this with WordPress.com
Get started